Al- qowaid Al- asasiyah Fii Ulumil Qur’an Pengarang ( Sayyid Muhammad Alawi ibn Abbas Al- Maliki Al- Hassani )

 Bismillahirrahmanirrahim…..

      Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang menciptakan Qolam (pena) yang dengannya manusia mengetahui  apa yang belum diketahui, Shalawat beriringkan salam kepada Ruh yang yang pertama kali menerima Qolam (pena) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Wa ba’du…..

Sebelum mempelajari fan ilmu yang disebut dengan ilmu maqosid ada baiknya bagi seorang thalib terlebih dahulu mempelajari ilmu maasail (yaitu  ilmu yang mengantarkan kita kepada ilmu maqosid).

Qowaid asasiyah fii ulumil qur’an merupakan kitab karangan imam Sayyid Muhammad Alawi ibn Abbas Al- Maliki Al- Hasani yang merupakan talkhisan (ringkasan) dari kitab Zubdatul Itqon setelah kitab Al- Itqon karya  Imam Jaluddin Assuyuti.

Kitab ini dikarang dengan tujuan mempermudah para thalib dalam mempelajari fan ulumul qur’an, kitab ini cocok untuk para mubtadi (pemula) Karena sedikit lebih pleksibel dengan mencakup poin-poin penting dari kitab aslinya yaitu al-itqon.

Ada beberapa pokok yang perlu diperhatikan saat hendak memulai sebuah pelajaran, Seperti biasa yang kita temukan didalam kitab-kitab turast, tak lupa pengarang selalu menyediakan mabadi asyaroh (permulaan yang sepuluh) dengan tujuan agar si thalib mengetahui manfaat dan tujuannya, sehingga kelak akan menumbuhkan semangat yang kuat ketika mempelajarinya, permulaan yang sepuluh itu mencakup kepada: 

إن مبادي كل فن عشرة .....    الحد والموضوع ثم الثمرة

“sesungguhnya setiap bidang ilmu itu memiliki sepuluh dasar pokok…defenisi, tema (judul), kemudian buah hasil dari mepelajarinya”

ونسبة وفضله والواضع  ....  والإسم الإستمداد حكم الشارع

“penisbatan, keutamaannya, dan peletaknya,,,,dan namanya, asal pengembangannya, dan hukumnya”

مسائل والبعض بالبعض اكتفى ....ومن در الجميع حاز الشرفا

“pembahasan sebagian itu mencukupi sebagian lainnya…dan siapa saja yang menguasai semuanya itu maka ia akan mulia”


• Hadduhu (defenisinya) : Dianya ilmu yang membahas tentang keadaan- keadaan Al-Qur’an Al- karim, dari segi turunnya Al-Qur’an seperti Makkiyyah  dan Madaniyyah, dan pembahasan mengenainya seperti keadaan sanad, penyampainnya, lafadz- lafadznya, makna- maknanyanya yang berhubungan dengan hukum syar’i atau selainnya.


• Materinya: adalah firman Allah SWT dari pembahasan tersebut.



• Faidahnya : sebagai wasilah kepada pemahaman makna- makna  Al-Qur’an, dan mengamalkan setelah memahaminya.


• Buahnya: adalah berpegang teguh kepada tali yang kuat, dan memperoleh kebahagian didunia dan diakhirat.



• Peletaknya: adalah Allah SWT dan Nabinya Rasulullah SAW, dan ia merupakan ilmu ilahi dan nabawi.


• Sumbernya: adalah Al- Qur’an sendiri dan sunnah serta bahasa Arab.



• Permasalahannya: adalah Hukum-hukum dan kaidah- kaidah, cerita-cerita (perumpamaan), pengajaran atau nasehat-nasehat yang terambil dari Al- Qur’an.


• Dan penisbatannya: bahwasnya Ulumul Qur’an termasuk kepada ilmu agama, bahkan ia adalah akar pokoknya, karena keadaannya bersumber dari Kitab, dan masik dalam hitungan setelah ketetapannya.



• Keutamaannya: termasuk ilmu yang paling mulia dan paling agung, karena ilmu menjadi mulia karena kemuliaan materinya, dan materinya itu merupakan yang paling mulia lagi agung.


Defenisi al- Qur’an

Al –Qur’an secara bahasa terambil dari  al-qur’u yang berbentuk jamak. Secara istilah adalah kalam Allah yang diturunkan kepada sayyidina Rasulullah SAW , yang dapat melemahkan musuh dari satu surah yang terdapat darinya.


MAKKIYAH DAN MADANIYAH

Ulama berbeda pendapat dalam penetapan Makkiy dan Madaniy atas tiga pendapat:

Pendapat pertama: bahwasanya Makkiy itu adalah ayat yang turun sebelum hijrah, dan madaniy merupakan ayat yang turun setelah hijrah, sama halnya ayat yang turun di Mekkah al-Mukarramah atau Madinah al-Munawwarah, Aam al-fath atau tahun haji Wada’, dalam keadaan tidak Safar atau sedang Safar, Dan pendapat ini merupakan yang paling kuat dan benar.

Pendapat kedua:  bahwasanya Makkiyy adalah ayat yang turun diMekkah al-Mukarramah meskipun sesudah hijrah, dan Madaniyy adalah ayat yang turun diMadinah al-Munawwarah, maka adapun ayat yang turun ketika Rasullah maka itu tidak disebutkan sebagai Makkiyy dan Madaniyy, tetapi ia disebut Safari.

Pendapat ketiga: bahwasanya Makkiy adalah ayat yang khitabnya (ditujukan) kepada Ahli Makkah, sedangkan Madaniyy kepada penduduk Madinah.

Kemudian para Ulama menyebutkan diantara tanda-tanda Makkiy dan Madaniyy adalah: 

Makkiyah: Surah yang diawali dengan (يأيها الناس), Surah al- Hajj, tetapi ada ikhtilaf  disebagian ayat, kemudian  ayat yang didalamnya terdapat ( كلا), surah yang terdapat didalamnya kisa nabi Adam AS dan Iblis selain yang terdapat pada surah al- Baqarah, dan surah yang menceritakan kisah-kisah orang-orang terdahulu maka ia makkiyah.

Madaniyyah: surah yang diawali ( يأيها الذين أمنوا) , surah  yang didalamnya menyebutkan orang-orang munafik, kecuali surah al- Ankabut, surah yang didalamnya menyebutkan tentang Hudud dan hukum-hukum maka ia madaniyyah.

Faidatun: ayat yang turun diMadinahberjumlah 29 surah yaitu: Al- baqarah, Ali- Imran, An-nisa, Al- maidah, Al- anfal, At-taubah, Ar-ra’d, Al-hajj, An-nur, Al-ahzab, Muhammad, Al-fath, Al- hujurat, Al- hadid, Al-mujadalah, Al- hasyr, Al- mumtahanah, As-saff, Al-jumu’ah, Al-munafiqun, At- taqabun, At- talaq, At-tahrim, Al- qiyamah, Al- zalzalah, Al- qadr, An-nasr, Al- mau’udzatani.

Dan sisanya merupakan ayat yang turun dimekkah, yang berjumlah 85 surah, apabila jumlah keseluruhannya 114 surah.

HADORIY DAN SAFARIY

Hadoriy adalah ayat yang turun ketika Rasulullah SAW tidak dalam keadaan safar, sedangkan Safariy adalah ayat yang turun ketika Rasulullah SAW dalam keadaan safar.

Maka adapun ayat yang turun ketika Rasulullah dalam keadaan safar (safariy) yaitu ayat yang berkenaan tentang tayammum Q.S. Al- Maidah : 8 

(يأيها الذين آمنوا إذا قمتم إلى الصلاة.. )    Kemudian surah Al-Fath yang turun ketika perang hudaibiyah, maka adapun ayat yang turun ketika dalam keadaan tidak safar (hadoriy) maka itu banyak sekali karena keadaannya yang asal ( لكونها الأصل), maka tidak perlu menjelaskan ayat-ayat yang turun pada masa tersebut.


AL-LAIL, AN-NAHAR, AS-SHAFIY, AS-SYITAIY

Kemudian ayat yang turun menurut zaman/masa itu dibagi kepada malam (al-laily), siang (an-nahary) , musim panas (as-shaif) dan musim dingin (as-shyita’i).

Ayat yang turun ketika siang hari itu banyak sekali karena musim ini merupakan keadaan penurunan asal, maka adapun ayat yang turun dimalam hari yaitu ayat yang berkenaan dengan perpindahan/perubahan kiblat (tahwil al-kiblah).

Kemudian ayat yang turun pada musim panas yaitu ayat tentang kalalah, firman Allah ta’ala (يستفتونك قل الله يفتيكم في الكلالة....), Rasulullah menamainya sebagai ayat as-shaif sebagaiman yang terdapat dalam hadist Shahih Muslim, dari Umar Radiyallahu ‘anhu, Dan ayat turun dimusim dingin yaitu surah an-Nur dari ayat yang berkenaan dengan hadist al-ifki hingga sepuluh ayat setelahnya, maka ini merupakan yang paling Shahih dari Aisyah Radiyallahu ‘anha bahwasanya ayat ini turun dimusim panas.


Nurul Isbah Ritonga

Mahasiswa semester 5, Dirasat Islamiyah UIN Jakarta.


Komentar